Tahukah kamu bahwa di sekitar kita ternyata masih ada penyakit kusta? Ya,
kusta masih ada tetapi kusta bukan penyakit kutukan/santet/turunan dari orang
tua ya. Itu hanyalah mitos.
Kusta adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium leprae. Nama lain dari kusta adalah Lepra atau Morbus Hansen .
Penyakit ini merupakan infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit,
saraf tepi, dan saluran pernapasan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan bahwa pada tahun 2023,
Indonesia masih menempati peringkat tiga dunia dalam jumlah kasus baru kusta,
dengan total 12.798 kasus baru. Beberapa provinsi yang mencatat jumlah kasus
kusta tertinggi, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tenggara, Sulawesi
Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, dan Papua.
Siapa yang
dapat berisiko terkena kusta?
- Melakukan kontak dengan seseorang yang alami infeksi, seperti bersin atau batuk
- Kontak dekat dan berulang dengan seseorang yang mengidap penyakit ini yang tidak diobati dalam waktu lama
- Tinggal di area endemik Kusta
Penyakit kusta ditularkan dari kuman utuh pada seseorang yang terinfeksi
kusta, melalui kontak yang erat dan lama. Gejala yang timbul dapat berupa :
a. Tanda pada
kulit
- Bercak kulit merah atau putih, tidak gatal,
mengkilap atau kering bersisik
- Kulit yang tidak berkeringat dan atau alis mata
rontok
- Penebalan wajah dan cuping telinga
- Lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan atau kaki
b. Tanda pada
saraf
- Nyeri pada saraf tepi
- Kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota
gerak
- Kelemahan anggota gerak dan atau kelopak mata
- Disabilitas/deformitas tanpa riwayat kecelakaan
Lalu apakah kusta bisa
disembuhkan? Ya tentu saja kusta bisa disembukan jika dilakukan pengobatan
secara tepat. Pengobatan kusta menggunakan MDT (Multi Drag Theray) yang sesuai
dengan rekomendasi WHO. Obat ini dapat diperoleh secara gratis di Puskesmas.
Jangan sampai
terlambat melakukan pengobatan ya. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi
jika kusta terlambat diobati
adalah glaukoma, kebutaan, gagal ginjal, kerusakan bentuk wajah.,
kerusakan permanen pada bagian dalam hidung dan lain-lain. Sedangkan pencegahan
yang dapat dilakukan dengan :
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
- Deteksi dini, pengobatan dini
- Kemoprofilaksis Kusta (pemberian obat yang
ditujukan untuk pencegahan Kusta)
Mari bersama-sama kita tanggulangi kusta dengan melakukan upaya pencegahan dan pengendalian dengan tepat.
Penulis : Arum Koesdyahmurti, S.KM
Pengulas : Sri Rahayu Murtiningsih, S.ST
Desain Cover : Kartika Kirana, S.KM
Sumber:
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2019
tentang Penanggulangan Kusta
- Kemenkes RI, Mengenal Penyakit Kusta, 07 Agustus
2023, https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2679/mengenal-penyakit-kusta
- Kemenkes RI, Indonesia Percepat Eliminasi Kusta dan
Filariasis, Target Bebas NTDspada 2030, 31 Januari 2025, https://kemkes.go.id/id/indonesia-percepat-eliminasi-kusta-dan-filariasis-target-bebas-ntds-pada-2030
- Kemnkes RI, Kusta, https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/pencegahan-infeksi-pada-usia-produktif/kusta





Komentar
Tulis komentar