Leptospirosis merupakan salah satu penyakit zoonosa yang menjadi masalah kesehatan di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira. Leptospirosis dapat menular melalui kontak dengan air, lumpur, maupun tanaman yang telah dicemari air seni dari rodent (tikus) maupun hewan lain yang mengandung bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat saat terjadinya banjir. Namun, faktor kebersihan lingkungan juga dapat berpengaruh, seperti lingkungan kumuh dan kurangnya fasilitas pembuangan sampah, maraknya habitat tikus di tempat pemukiman, daerah persawahan dan lahan bergambut serta air tergenang yang dicemari oleh urine tikus yang mengandung kuman Leptopira. Hewan-hewan yang menjadi sumber penularan Leptospirosis adalah rodent (tikus), babi, sapi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung, dan insektivora (landak, kelelawar, tupai).
Beberapa manusia memiliki risiko tinggi terpapar Leptospirosis karena pekerjaannya, lingkungan dimana mereka tinggal atau gaya hidup. Kelompok pekerjaan utama yang berisiko yaitu petani atau pekerja perkebunan, petugas pet shop , peternak, petugas pembersih, saluran air, pekerja pemotongan hewan, pengolah daging, dan militer. Kelompok lain yang memiliki risiko tinggi terinfeksi Leptospirosis yaitu bencana alam seperti banjir dan peningkatan jumlah manusia yang melakukan olahraga rekreasi air.
Manusia dapat terinfeksi Leptospirosis karena kontak secara lansung atau tidak langsung dengan urin hewan yang terinfeksi Leptospira. Penularan langsung dapat terjadi melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung bakteri Leptospira. Sedangkan penularan tidak langsung terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan. Masa inkubasi Leptospirosis antara 2-30 hari atau biasanya rata-rata 7-10 hari.
Gejala penyakit Leptospirosis ini dibedakan menjadi 2 yaitu gejala ringan dan berat. Gejala ringan antara lain demam, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot hingga kesulitan berjalan, kemerahan pada selaput putih mata dan kekuningan pada mata serta kulit. Gejala berat antara lain ikterus (kuning), disfuungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, serta pendarahan.
Sampai dengan bulan Juni 2025 sudah dilaporkan 17 kasus Leptospirosis dan 4 diantaranya meninggal (Data Kasus Leptospirosis Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, cut off 24 Juni 2025). Untuk mencegah terjadinya penambahan kasus Leptospirosis, dapat dilakukan beberapa hal diantaranya:
· Menjaga kebersihan lingkungan
· Menyimpan makanan dan minuman agar aman dari tikus
· Mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah bekerja di sawah, kebun, selokan, dll
· Menyediakan dan menutup rapat tempat sampah dan penampungan air
· Meningkatkan penangkapan tikus
· Menutup luka dengan perban kedap air
· Memakai sepatu boot jika ke daerah basah/ kotor
Sumber:
Media edukasi oleh Subdit Zoonosis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kemenkes RI
Petunjuk Teknis Pengendalian Leptospirosis Cetakan Ke-3, 2017, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
-Penulis dan Desain Cover: Kartika Kirana, S.KM-





Komentar
Tulis komentar